Jejak Sanga sulung (Puspita)
Karya: Puspita Sari PasaribuDi tanah rantau Mandailing Natal kujejakkan kaki,
Membawa mimpi di atas pundak yang belajar tegar.
Teringat Padang Lawas yang sejuk merengkuh hati,
Tempat sungai mengalir jernih dan udara terasa segar.
Dulu rumah riuk oleh canda dan tawa,
Makan bersama adik, mengurai cerita di pangkuan Ibu.
Kini sunyi merayap di antara helai napas yang ada,
Menyimpan rindu pada hangat yang dulu selalu menyatu.
Di tengah sunyi itulah, kuingat kembali alasan aku dilahirkan,
Sebuah nama yang diukir dengan penuh doa dan harapan.
Doa itu dihembuskan nada demi nada,
hingga bertaut lah jiwaku dalam nama—Puspita.
Sedikit yang tahu,
bahwa namaku lahir dari tiga perjalanan:
Pus ~ Putri Saroha, tempatku belajar berpijak.
Pi ~ Pinarik, tempat akar mengajarkanku arah pulang.
Ta ~ Tamiang, tempat doa Ibu lebih dahulu tiba.
Tiga suku kata. Satu nama. Satu harapan.
Sebagai sulung, aku adalah tiang yang belajar tak goyah,
Belajar mengalah, meredam lelah, menopang sejuta harap.
Tak hanya menjadi teladan di kala sunyi dan payah,
Tapi juga pelita yang menjaga asa tak pernah padam.
Bukan tak rindu pulang ke tepi sungai tercinta,
Namun rindu ini ku bakar menjadi nyala keberanian.
Sebab langkah Puspita lahir dari alir doa yang tak bermuara,
Menjadi janji sulung untuk pulang memuliakan orang tua.
Panyabungan,18 Oktober 2026