Renjana yang Lirih
Karya: Lailatun Nafi'ahAku berdiri di depan hamparan penuh energi tak kasatmata.
Akalku berbisik, untuk apa aku di sini,
di tempat yang tak pernah kupijaki?
Semburat terang di langit mulai redup,
tapi entah kenapa aku tidak merasa takut.
Suara jangkrik melirih di udara,
bersama gelap yang mulai merajalela.
Matahari telah benar-benar sirna,
persis seperti asa yang pernah kutanamkan pada sosok dalam gundukan di depan sana.
Ragaku bergetar meluruh,
sukamaku melirih bersuara.
Apakah boleh aku meminta
apa yang telah menjadi milik semesta?
Tanggamus, 4 Mei 2026