KAYLA CLAUDYA PARAMITHA - BABAK TANPA MENOLEH (OSN 3.9)

📅 27 Oktober

 BABAK TANPA MENOLEH

Karya: KAYLA CLAUDYA PARAMITHA


Aku tidak sedang memaafkanmu, masa lalu.

Aku hanya belajar
meletakkanmu di tempat yang benar.

Bukan di dadaku,
bukan di saku yang selalu kugenggam,
bukan di sudut kasur ketika malam terlalu sunyi.

Aku meletakkanmu di kenangan,
di mana kau memang seharusnya tinggal.

Dulu aku pikir,
melupakan berarti menghapus.
Seperti menghapus tulisan di papan tulis,
lalu berpura-pura tidak pernah menulis apa pun.

Ternyata bukan.

Melupakan itu lebih pelan.
Seperti luka yang perlahan berhenti sakit,
walaupun bekasnya masih ada.

Aku tidak akan berbohong
dan berkata aku sudah baik-baik saja.
Ada malam-malam ketika ingatanmu datang
tanpa mengetuk pintu.

Ada nama yang masih terasa di lidah,
ada kegagalan yang masih terdengar seperti tawa,
ada harapan yang pernah kupeluk terlalu erat,
sampai tanganku tidak tahu cara melepaskannya.

Tapi hari ini,
aku tidak lagi bertanya,
“Kenapa ini terjadi padaku?”

Aku mulai bertanya,
“Apa yang bisa kupelajari,
lalu kulepaskan?”

Karena masa lalu memang pernah mengajariku.
Ia mengajariku bahwa tidak semua pintu harus kupukul lagi.
Tidak semua orang harus kupohon untuk tinggal.
Tidak semua nilai menentukan siapa aku.

Kegagalan itu hanya kertas,
bukan akhir hidupku.
Kehilangan itu hanya perpisahan,
bukan bukti bahwa aku tidak pantas dicintai.
Dan masa lalu itu hanya jalan yang sudah kulalui,
bukan rumah tempatku harus kembali.

Jika suatu hari kau bertanya,
apakah aku sudah melupakanmu?

Mungkin aku akan menjawab:

“Tidak sepenuhnya.
Tapi aku sudah berhenti mencarimu
di setiap orang baru yang kutemui.”

“Tidak sepenuhnya.
Tapi aku sudah berhenti menyalakan lilin
untuk kenangan yang sudah lama padam.”

“Tidak sepenuhnya.
Tapi aku sudah belajar tidur
tanpa menunggu maafmu datang.”

Melupakan bukan berarti aku lupa pernah sakit.
Melupakan berarti aku tidak lagi membiarkan sakit itu
menentukan arah langkahku.

Aku menaruh batu-batu kemarin.
Satu per satu.

Batu bernama "tangis yang kutahan pelan"
Batu bernama "seandainya waktu itu"
Batu bernama "kenapa bukan aku yang dipilih"
Batu bernama "aku seharusnya lebih baik"

Aku menaruhnya perlahan,
bukan karena aku kuat,
tapi karena aku lelah membawanya.

Dan anehnya,
setelah meletakkannya,
aku baru sadar:

Selama ini bukan jalanku yang terlalu jauh.
Bukan hidupku yang terlalu berat.
Tapi sakuku yang terlalu sering kubawa pulang.

Jadi, biarlah masa lalu menjadi guru.
Bukan penjara.
Biarlah ia menjadi pelajaran.
Bukan alasan untuk berhenti.

Aku tidak akan memaksa diriku melupakan dalam satu malam.
Aku hanya akan mencoba,
hari ini sedikit,
besok sedikit lagi.

Sampai suatu hari,
ketika namamu disebut orang lain,
jantungku tidak lagi berhenti.

Sampai suatu hari,
ketika aku melewati jalan yang dulu menyakitkan,
aku bisa tersenyum dan berkata:

“Di sanalah aku pernah hancur.
Tapi dari sana juga,
aku belajar membangun diriku lagi.”

Karena melupakan bukan berarti menghapus cerita.
Melupakan berarti aku akhirnya mau
menulis bab baru.

Tanpa menoleh terlalu lama.
Tanpa menunggu orang yang tidak kembali.
Tanpa membawa kemarin
ke dalam hari-hariku yang masih hidup.

Besok pagi,
masa lalu tidak akan bangun bersamaku.

Dan kali ini,
aku tidak akan membangunkannya lagi.


Medan, 25 Oktober 2026