Laut yang Disembunyikan Mata
Karya: Syah Erlangga PradanaDi balik mataku,
laut tak pernah benar-benar surut.
Ia menyimpan badai yang kupanggil diam,
nama-nama yang karam tanpa upacara,
dan rindu yang tak sempat menemukan pantai.
Sesekali, laut itu pecah—
menjadi bening yang mengalir di pipi.
Orang-orang menyebutnya tangis,
padahal ia adalah bahasa
yang tak pernah berhasil dilahirkan oleh suara.
Setiap tetes membawa sesuatu
sepotong pelukan,
sebuah kepergian,
juga harapan yang mati
sebelum sempat mengenal pagi.
Maka biarkan aku menangis malam ini.
Bukan karena aku kalah kepada luka,
melainkan karena ada duka
yang harus dilarungkan
agar hati tidak berubah menjadi kuburan.
Esok, ketika matahari membuka jendela,
mungkin laut itu masih ada.
Namun aku akan belajar—
bahwa tidak semua air
diciptakan untuk ditumpahkan;
sebagian harus menjadi sungai
yang mengantarkan kita
pulang kepada diri sendiri.
Surakarta, 31 Agustus 2026