Simfoni Tangis Malam
Karya: Raiza HanifaSimfoni Tangis Malam
Karya : Raiza Hanifa
Malam menutup kelopak kota, berat
lampu-lampu merunduk seperti mata kecil yang lelah.
Angin kehujanan menyisir atap-atap,
membawa suara-suara yang tak sempat pulang.
Di sudut jalan, tangis merintih seperti biola tua,
melinting nada-nada patah dari tenggorokan musim lalu.
Setiap isak mengetuk jendela jiwa,
menyarungkan kenangan ke ruang-ruang kosong.
Bulan menulis catatan perak di layar aspal,
membaca lirih kisah-kisah yang tak mau hilang.
Bintang-bintang tampak ragu, menahan napasnya,
seperti pendengar yang takut merenggut luka.
Simfoni malam mengatur skor pada detak jantung,
memadukan duka dan harap dalam akord panjang.
Tangis tak sekadar air; ia adalah bahasa,
mengalir, membersihkan, lalu menunggu fajar.
Di akhir bait, engkau berdiri—diam, mendengar—
meraba sisa-sisa suara yang masih gemetar.
Dan malam, lembut, menutup partiturnya,
menyisakan jeda di antara dua napas: menerima dan melanjutkan.
Simpang Empat, 31 Agustus 2026