Menyapu Serpihan Gundah
Karya: Shavina Anastasya Fauzul RahmaDi balik malam yang kian melarut,
isak samar perlahan menembus sunyi,
menjelma air mata yang luruh tanpa arah,
meniti lekuk pipi yang lelah bersembunyi.
Setiap tetesnya menyimpan kepingan kisah:
janji-janji yang runtuh menjadi debu,
rindu yang tersangkut di ambang pintu,
serta luka lama yang kembali ngilu.
Ada sesak yang tak sanggup dieja kata,
tertahan rapi di riyab dada yang redup.
Kini menjelma telaga bening di sudut mata,
menumpahkan retak yang lama dihirup.
Bukan karena lelah mengarungi dunia,
melainkan beban yang terlalu lama dipeluk sendirian,
berpura-pura utuh di hadapan sesama,
meski jiwa berdarah dihantam kenyataan.
Biar duka ini membanjiri sepi,
mencuci perih yang tak kunjung usai.
Sebab tangis bukan pertanda menyerah kalah,
melainkan cara jiwa menyapu serpihan gundah,
membuka ruang bagi lega yang akan sampai,
ketika fajar menyapu bekas air mata di pipi.
Bekasi, 6 September 2026