Pulang yang Tak Pernah Sederhana
Karya: Shafa MahiraAku pernah menangis
karena sekolah impian hanya tinggal nama,
sementara aku harus belajar
mencintai pondok yang tak pernah kupilih.
Ketika kamar menjadi saksi pertengkaran,
namaku berkelana dari mulut ke mulut.
Fitnah datang tanpa izin,
dan aku hanya punya dua tempat untuk runtuh:
di halaman diary,
atau di suara orang tuaku lewat telepon.
Kupikir luka akan selesai setelah kami berdamai.
Ternyata sekembalinya aku dari rumah,
aku dipilih menjadi penggerak—
lalu bentakan menjadi sarapan,
bahkan makian menjadi suara yang harus kutelan.
Malam-malam, aku menangis dalam diam
dan menulis agar hatiku tak ikut berteriak.
Kini aku masih mengingat semuanya.
Bukan untuk membenci,
melainkan untuk mengingat satu hal:
aku pernah ingin pulang,
tetapi akhirnya belajar menjadi rumah bagi diriku sendiri.
Medan, 06 September 2026