Katulistiwa Nusantara
Karya: Pande Putu Erik FebrianaKATULISTIWA NUSANTARA
Di katulistiwa,
lima gunung mengirim kabar dari perut bumi:
Semeru menggelegar,
Anak Krakatau menyalakan langit,
Merapi mengepulkan napas,
Ibu menggurat abu,
Sinabung mengirim tanda.
Bukan bumi yang murka,
mungkin ia sedang menangis
dengan bahasa yang tak kita mengerti.
Abu turun seperti duka
yang kehilangan alamat,
menyelimuti atap, jalan, dan ladang
dengan warna kelabu.
Di antara asap dan bara,
Nusantara menundukkan kepala.
Bukan untuk takut kepada alam,
melainkan untuk belajar mendengar.
Sebab gunung tidak hanya memuntahkan api;
ia menyimpan tangis
jauh sebelum manusia mengenalnya.
Hari ini,
langit mungkin kelabu,
laut mungkin bergetar,
tetapi harapan tidak ikut menjadi abu.
Dari luka tanah,
kita belajar satu hal:
bumi yang menangis
tidak selalu meminta diselamatkan;
kadang ia hanya meminta
agar kita berhenti sejenak
dan mendengarkan.
Denpasar, 9 September 2026