Rumah di kala itu
Karya: Ni Kadek Lydia Wina YantiPekik keras dari Ibu masih menggema tegas di telingaku,
Padahal sewindu telah berlalu sejak saat itu.
Semenjak Ibu berpulang ke pangkuan keabadian,
Aku mulai menyadari betapa beratnya menjadi tulang rusuk yang bengkok.
Dusta rasanya jika ku ucapkan Aku tak merasa kesulitan sedikitpun.
Meski bentakannya yang paling nyaring terngiang,
Bukan berarti aku telah lupa akan hangat tawanya, teduh senyumannya, ataupun parasnya yang syahdu.
Ibu adalah sebaik-baiknya rumah di dunia.
Sekalipun Aku jatuh dan gagal berulang kali,
Ia tetap akan mendekap raga kecilku dengan erat.
Ibu adalah rumah teduh yang teramat lapang.
Menjadi pelita penuntun, di kala senja merebak.
Semasa hidupnya, Ibu selalu menggenggam apa yang Aku ragukan.
Segala hal tentangnya bagaikan semburat senja yang mewangi, merajut kenangan.
Namun kini, hal yang paling ku rindukan adalah buaian yang menggerus lembut pipiku.
Tumbu, 10 September 2026