Hujan dari mataku
Karya: NEYZA RAMADHANIMalam menampung tangisku
di antara lipatan sunyi,
seperti langit yang terlalu lama
menyembunyikan hujan
di balik awan kelabu.
Ada sesuatu yang retak
di dasar dadaku—
bukan kaca,
melainkan kata-kata
yang tak pernah menemukan pintu
untuk pulang.
Air mata jatuh perlahan,
satu demi satu,
seperti gerimis yang mengikis tanah
tanpa pernah bertanya
seberapa dalam luka yang ditinggalkannya.
Kubiarkan pipiku menjadi sungai,
mengalirkan segala yang selama ini
terkubur dalam diam:
rindu yang membatu,
kecewa yang berlumut,
dan doa-doa
yang kehilangan arah.
Tangis ternyata bukan sekadar air
yang lahir dari mata.
Ia adalah laut
yang tumpah dari ruang paling sunyi
di dalam jiwa.
Ia membawa pergi
hal-hal yang terlalu berat untuk dipikul,
meski meninggalkan jejak asin
di wajah
dan sesak
di dada.
Barangkali begitulah cara hati
memecahkan dirinya sendiri
agar dapat kembali bernapas.
Maka biarkan aku menangis malam ini.
Biarkan hujan dari mataku
jatuh sampai selesai.
Sebab esok,
ketika fajar menyingkap tirai langit,
mungkin akan kutemukan
sepotong cahaya
tumbuh dari tanah
yang basah oleh tangis.
Serang, 27 Agustus 2026