Air Mata Sebagai Langkah Awal
Karya: I Kadek Angga WijayaHujan mengetuk jendela,
seperti tangis yang tak pernah selesai.
Kehidupan menuntut kita berdiri,
padahal lutut masih gemetar.
Tangis bukan tanda lemah,
ia sungai kecil yang mencuci luka.
Dari air mata yang jatuh,
tumbuh keberanian baru.
Kita tertawa di siang hari,
menangis di malam yang sepi.
Karena hidup memang begitu,
campuran tawa, tangis, dan doa.
Esok, kita lap air mata.
Jalan lagi.
Sebab tangis hari ini
adalah pupuk untuk hidup esok hari.
12 September 2026