Tangis yang Kau Telan
Karya: Haya Khairani RahmanTawamu pecah di langit-langit ruangan.
Aku tertawa, tetapi telingaku menangkap
sesuatu yang belum selesai di suaramu.
Kau merias wajah dengan nada.
Senyummu rapi seperti lipatan seragam.
Namun di balik rahang,
ada sungai yang kau paksa berbalik,
menghantam kerongkongan, menolak keluar.
Kau sebut getaran bahu itu tawa.
Padahal jarimu menekan meja,
menahan gempa yang ingin naik ke matamu.
Kau lempar tawa ke dinding.
Ia kembali, tetapi bukan tawa.
Kau seka dagu dengan punggung tangan.
Tangismu tak sempat menjadi suara,
air mata berhenti di tenggorokan,
hanya lampu yang menjadi saksi,
yang tak pernah basah oleh apa pun.
Di sudut mataku yang retak,
aku menelan hujan yang sama,
tanpa menyentuh pipimu.
Pekanbaru, 7 September 2026