Rembulan Yang Tak Berdebat Dengan Gelap
Karya: FRISKILLIA ASTUTIEngkau bukan sekedar tubuh
Bukan pula sekedar nama yang singgah diingatan
Engkau adalah aksara pertama yang menuliskan kehidupan
Ciptaan tuhan yang menyimpan begitu banyak makna dalam diamnya
Di dalam dadamu bersemayam musim-musim yang tak sempat diberi nama
Di dalam matamu tumbuh harapan yang enggan mengenal padam
Ada kelopak yang kau biarkan gugur di dasar dadamu
Agar senyummu tak menjadi mawar yang mekar di hadapan dunia
Ada air mata yang kau titipkan kepada sunyi
Ada rindu yang kau biarkan menjadi doa sebab tak semua cinta harus menjelma kata
Engkau laksana telaga yang menyimpan badai di dasarnya
Permukaannya teduh, meski kedalaman berkali-kali diguncang gelombang
Tak banyak yang tahu berapa kali hatimu hampir karam
Sebab kau memilih tersenyum meski dirimu sendiri sedang mencari tepian
Setiap hari kau menebar senyum kepada dunia
Sementara di baliknya ada reruntuhan harapan yang kau susun kembali
Malam berkali-kali merobohkan istana Arab yang kau bangun
Namun pagi selalu menemukan mu menyusun bata-batanya kembali
Ketika dunia terlalu gaduh menilai siapa dirimu
Engkau tak sibuk membuktikan bahwa langkahmu pantas dihargai
Engkau seperti rembulan yang tetap menumpahkan cahaya
Tak perlu berdebat dengan mereka yang menganggapmu redup
Maka tetaplah menjadi hening yang tak dikalahkan gaduh
Menjadi akar yang tak iri kepada bunga yang tumbuh lebih tinggi
Menjadi sungai yang tak berhenti menemukan jalan
Meski berkali-kali batu menghadang alirannya
Sebab perempuan bukan tentang seberapa keras ia bersuara
Melainkan tentang seberapa teguh ia menjaga nyala ketika dunia memadamkannya
Bukan tentang tak pernah jatuh
Tetapi tentang selalu menemukan alasan untuk kembali berdiri
Dan jika dunia bertanya siapa dirimu
Biarkan tenangmu menjadi bahasa
Teguhmu menjadi jawaban
Dan langkahmu menjadi bukti bahwa kau pernah jatuh namun tak pernah selesai sebagai perempuan yang berjuang
Lombok Timur, 2 September 2026