Memeras Air Di Sudut Mata
Karya: Fayira RamadhaniSayang, kala semestamu luruh tergores meteor yang menggelitik sunyi
Di dermaga kau merakit sebongkah kalbu yang kopong bergelantungan
Menghitung bingung; temaram satu, malam pekat dua, hitam awan tiga–yang tersisa hanyalah ceceran harsa yang membiru mati
Memeras darah, mengaduk tangis di cangkir kesayangan.
Cakrawalamu mungkin gagu berdebu–kusulap menjadi akar tangguh yang beralas sepotong emas mulia
Kau 'kan merekah mewah
Tak lagi sukar menadahi bulir bening yang menyekat asa
Punguti derita, sihirlah menjadi senandung semesta.
Tangerang, 7 September 2026