Menahan Sampai Petang
Karya: Aqni Nurul AlifkahIbu, aku banyak tangisnya sejak jauh darimu.
Aku banyak menyimpan sesak di balik hari-hariku.
Aku melewati malam dengan mata yang basah diam-diam,
sebab rindu rupanya pandai tumbuh ketika rumah terasa jauh di pandang.
Ibu, aku sering menangis selepas menutup telepon denganmu.
Suaraku sempat terdengar biasa menahan rindu.
Namun pertahanan itu runtuh bersama derai air mataku,
begitu layar ponsel padam dan sepi kembali menyapaku.
Ibu, aku menangis ketika hari terlalu panjang.
Ketika lelah pulang bersamaku, sementara rumah masih sejauh perjalanan.
Bu, air mataku jatuh membasahi bantal tanpa tertahan,
menjadi satu-satunya teman setia kala kesunyian datang.
Ibu, aku masih sering menangis karena ingin pulang.
Menangis sampai mataku lelah dan pandanganku menghilang.
Bukan sekali dua kali, melainkan berkali-kali sampai petang.
Berkali-kali, sampai aku hafal bagaimana rasanya menahan.
Surakarta, 13 September 2026