Gema di Ruang Hampa
Karya: NASIFAH AINURAHMAKatanya,
Menangis adalah sebuah kelemahan,
Sayangnya,
Mereka belum mengerti,
Jikalau air mata itulah,
Bahasa paling sunyi.
Ia adalah hujan yang turun,
Di dalam rumah bernama jiwa.
Bukan untuk meruntuhkan dindingnya,
Melainkan untuk membersihkan debu,
Yang telah sekian lama mengendap.
Ya.
Tundukanlah kepalamu sejenak,
Pejamkan netramu dan renungkan.
Sampai akhirnya,
Telah tiba saatnya,
Luapkan semua perasaan kalian!
Luapkan!
Menangislah! Berteriaklah!
Jangan kau tahan,
Jangan kau pendam sendirian.
Biarlah detik ini menjadi saksi,
Bahwa dada yang sesak akhirnya bernapas.
Bahwa tangis yang pecah bukanlah akhir,
Melainkan awal dari sembuh yang perlahan pulih.
Jangan takut dilihat rapuh,
Jangan malu terdengar isak,
Seperti langit, ia pun pernah menangis,
Lalu menumbuhkan pelangi setelahnya,
Seperti tanah, ia pun pernah diguyur,
Lalu menumbuhkan tunas dari luka.
Maka menangislah..
Sampai bahu terasa ringan.
Sampai dada tak lagi bergemuruh.
Sampai kau ingat,
Bahwa kamu tidak sendirian.
Setelah ini, kita bangkit lagi,
Dengan mata yang mungkin sembab,
Tapi hati yang sudah lebih bersih.
Dengan langkah yang mungkin pelan,
Tapi jiwa tak lagi hampa.
Purwokerto, 13 September 2026