Karya: Thalita Azaria Faustina
Dari kejauhan aku memandang,
ada tawa indah yang meretas hening.
Ada binar di matamu,
yang diam-diam mengukir namamu di sanubariku.
Kau bukan lagi wajah yang hanya lewat,
kau adalah peristiwa.
Istimewa.
yang Tak tergantikan.
Sekali suaramu menyentuh telinga,
gelisahku pulang.
Sekali tawamu menggema,
duniaku menemukan tenang.
Alangkah berartinya kau dalam hidupku.
Tawamu bagaikan ombak,
menghantam karang dengan lembut,
riuh, namun meneduhkan.
Aku tak menuntut kau tinggal,
aku hanya memohon semesta
agar gema suaramu tetap sampai,
walau pendengaranku kian redup oleh usia.
Semarang, 22 Agustus 2026