Karya: Septi Aji Ramdhani
Tangis di Mihrab Langit
Aku menangis bukan karena dunia terlalu sempit,
melainkan karena hati ini terlalu sesak menahan rindu kepada-Mu.
Air mata jatuh perlahan,
seperti ayat yang turun menenangkan gelisah.
Ia membasuh luka yang lama kupendam,
membersihkan sombong yang sering bersembunyi di balik kuat.
Ya Allah,
terimalah tangis ini sebagai sujud yang basah.
Jadikan setiap tetesnya penghapus dosa,
dan ganti lelahku dengan ketenangan.
Di sepertiga malam aku bersujud,
membisikkan nama-Mu di antara isak.
Aku pulang.
Pulang dari keras kepala,
pulang dari berpura-pura tegar.
Jika esok aku tersenyum lagi,
biarlah senyum itu tumbuh
dari hujan air mata malam ini
yang Engkau saksikan.
Bandung, 25 Agustus 2026