Karya: Fahira Innaya Abdullah
Di balik malam, kusimpan tangis,
jatuh perlahan bersama sunyi,
membawa luka yang begitu tipis,
namun meninggalkan jejak di hati.
Aku menangis bukan karena kalah,
bukan pula karena tak mampu bertahan,
hanya hati yang terlalu lelah
menyembunyikan luka dari kehidupan.
Setiap tetes menyimpan cerita,
tentang kehilangan dan rindu yang tertunda,
tentang harapan yang nyaris sirna,
namun diam-diam menolak binasa.
Dari tangis, aku belajar menerima,
merangkul luka tanpa membenci,
menata kembali langkah yang terluka,
lalu berjalan mencari arti.
Kini biarlah air mata berbicara,
menjadi saksi bahwa aku pernah terluka.
Sebab dari mata yang pernah basah,
sering kali tumbuh cahaya yang indah.
Pekanbaru, 25 Agustus 2026