Karya: Loise Christina
Pagi itu, sebuah suara masih mengantarkan langkahku,
menanyakan sarapan sebelum pintu terkunci.
Aku melangkah seperti biasa,
tanpa tahu bahwa gema itu akan menjadi fragmen
yang paling sering kurindukan.
Ketika pulang,
aku disambut sunyi yang asing dan tak berkawan.
Ada mata yang sembap,
ada doa yang terbata,
dan ada kursi kosong yang mendadak sesak oleh kenangan.
Sejak hari itu, rumah tetap tegak berdiri,
fajar tetap terbit,
dan waktu terus memaksaku dewasa.
Namun, ada satu yang telah ranap dan tiada:
gema yang dahulu membuat rumah benar-benar terasa pulang.
Kini, ketika rindu mengetuk,
aku hanya membuka lembar doa.
Di sana, air mata selalu lebih karib menyebut nama
yang tak lagi bisa kupanggil pulang.
Kisaran, 23 Agustus 2025