Karya: Rahmawati Maulida
Kalang kabut enggan pergi, jiwa mati dihadapkan dengan pilihan sendiri. Wahai Tuhan, beribu cara sudah diriku lakukan, jika memang harus dahulu menikmati tewas dengan luka, aku serahkan tangisku sebagai pasrah pada sang maha kuasa.
Manusia banyaknya egois, enggan mengerti pada luka orang lain, namun senantiasa haus banyak validasi pada goresan— yang bahkan ia buat sediri.
Tidak ada yang tau, bunga harum menyelubung membekam erat banyak cacian, bagai mawar yang diam, daunya tak bersuara meski duri seringkali menggerogoti.
Nispati pada lara yang bersemuka, ia memilih pergi menyendiri; mendekap, memperbaiki, serta memberi angan pada diri— seolah semuanya akan kembali baik lagi.
Duh, Tuhan. Lagi lagi luka menggerogoti, jiwaku hampir tak seimbang dengan iman. Ironisnya sang pelaku; hanya diam, dan hidup seakan tak ada angan yang ia bungkam.
Garut, 25 Agustus 2026