Karya: Nurul Inaya Azahra
Sejak kecil,
aku mengenal kesepian,
mengenal air mata,
dan lara yang diam-diam tumbuh di dada.
Namun ada satu hal
yang tak pernah benar-benar kukenal—
cinta.
Maka setiap malam aku berdoa,
“Tuhan,
aku hanya ingin tahu
bagaimana rasanya bahagia,
bagaimana rasanya dicintai.
Sekali saja.”
Namun doa-doaku seakan hilang
di antara langit dan sunyi.
Luka datang silih berganti,
hingga suatu hari aku hanya mampu berkata,
“Jika bahagia memang bukan untukku,
bawalah aku pulang.”
Sampai akhirnya,
seseorang datang.
Ia tidak membawa janji besar,
hanya tawa sederhana
yang perlahan membuatku lupa
bagaimana rasanya menangis.
Bersamanya,
aku mengenal Prema—
cinta.
Aku mengenal Harsa—
kebahagiaan.
Dan untuk pertama kalinya,
aku tersenyum tanpa rasa takut
akan kehilangan.
Namun kebahagiaan itu
ternyata hanya dipinjamkan kepadaku.
Malam itu,
sebuah pesan terakhir datang:
“Selamat malam, cantikku.
Semoga kau bermimpi indah.”
Aku tersenyum,
lalu memejamkan mata.
Tanpa tahu
bahwa malam itu
adalah malam terakhirku di dunia.
Ketika Malaikat Maut datang,
aku menolak pulang.
“Tidak…
aku baru saja menemukan kebahagiaanku.
Mengapa sekarang?”
Namun waktuku telah selesai.
Akhirnya, sampailah aku
di hadapan Sang Pencipta.
Aku menangis.
“Mengapa, Tuhan?
Mengapa Engkau mengambilku
saat aku akhirnya bahagia?
Aku sudah menerima semua luka.
Aku sudah menerima kesepian.
Tetapi mengapa setelah aku mengenal cinta,
Engkau justru membawaku pergi?
Apakah aku hanya boleh bahagia
di detik-detik terakhir hidupku?”
Tuhan terdiam.
Lalu Ia berkata,
“Aku tidak pernah bermaksud jahat kepadamu, wahai hamba-Ku.
Kau meminta cinta,
maka Aku mempertemukanmu dengan seseorang
yang mengajarkanmu bagaimana rasanya dicintai.
Kau meminta kebahagiaan,
maka Aku memberimu senyum
yang selama ini kau rindukan.
Dan kini,
kau tidak perlu lagi takut kehilangan keduanya.
Sebab Aku membawamu pulang
bukan untuk mengambil kebahagiaanmu,
melainkan untuk memberimu
kebahagiaan yang tidak mengenal akhir.
Pulanglah, wahai hamba-Ku.
Sebab di sini telah menunggumu
Ananta Prema—
cinta yang tidak pernah berakhir.”
Mendengar itu,
Aku menangis dan bersujud.
Untuk pertama kalinya,
Aku tidak lagi meminta apa-apa.
Dan aku akhirnya mengerti—
Tuhan tidak pernah terlambat
menjawab doanya.
Ia hanya menyimpan jawabannya
di tempat yang tidak mengenal
kata kehilangan.
“Dari DuαΈ₯kha aku datang,
melalui Prema aku belajar,
dan dalam Δnanda aku akhirnya pulang.”
Bandung, 23 Agustus 2026