Karya: Ni Made Nahira Renata Maheswari
Malam kian larut dan dingin,
menyisakan sepi yang tak diinginkan.
Di sudut kamar yang temaram,
terdengar isak yang perlahan tenggelam.
Hanya sunyi yang setia menemani,
saat air mata jatuh tanpa henti.
Tangis yang lama tertahan di dada,
kini tumpah bersama luka yang ada.
Tak ada suara selain sesenggukan,
tak ada pelukan untuk menenangkan.
Setiap tetes yang jatuh ke bumi,
seakan membawa kepedihan dalam diri.
Waktu terus berjalan tanpa menoleh,
sedangkan tangis belum kunjung usai.
Meski air mata perlahan mengering,
isak di dada masih terus bergaung.
Dan ketika malam berganti pagi,
jejak tangis masih melekat di hati.
Sebab ada tangisan yang dapat reda,
namun isaknya tertinggal lebih lama.
Bali, 23 Agustus 2026