Karya: AFFANDI MUBARAK
Tangis
Tangis jatuh diam-diam di ujung malam,
bukan lemah, tapi jujur yang menetes.
Ia basahi pipi yang terlalu lama menahan,
melepaskan beban yang kata tak sanggup menetes.
Kadang tangis datang karena rindu,
kadang karena luka yang belum sembuh.
Ia pecah seperti hujan di atap seng,
berisik, lalu reda, meninggalkan tenang.
Tangis bukan akhir.
Ia jeda yang diberi tubuh,
agar hati belajar lagi cara bernapas,
agar esok punya ruang untuk tumbuh.
Rupat, 7 Agustus 2026