Karya: Mutti'ah
Gelak tawa gembira yang kusulam memeluk dada,
menghibur hati, memuaskan dahaga.
Kutepis ringan khayalan kelam yang bertebaran,
kuteguhkan jiwa dengan alunan tawa yang berhamburan.
Untuk setiap pintu yang belum mampu kubuka lebar,
membiarkanmu datang perlahan, masuk dengan sabar.
Tak ada rasa hambar, bahagia dengan kabar.
Sejujurnya, aku takut terlena dengan riang yang berujung duka
tawa yang berdendang menuju luka.
Aku belum bersedia
kembali menelan bisa yang kusangka gula.
Perihal kemarin, aku dibuatnya gila.
Jambi, 25 Agustus 2026