Karya: WIDYA OKTAVIA JOHAN
Jangan tanya mengapa matahari basah,
barangkali pagi baru saja menangis
di balik cahaya yang dipaksakan cerah,
menyembunyikan luka dari mata yang mengemis.
Ada tangis yang tidak memilih suara,
ia tinggal di antara napas dan dada,
jatuh perlahan tanpa meminta iba,
seperti embun yang takut disebut air mata.
Aku pernah mengira tangis adalah kalah,
hingga kulihat langit menumpahkan hujan.
Ternyata, bahkan cahaya pun mengenal lelah,
dan luka tidak selalu membutuhkan penjelasan.
Jika suatu hari matamu kembali basah,
jangan buru-buru menyembunyikannya.
Mungkin hatimu sedang mengetuk pintu yang patah,
meminta sedikit waktu untuk kembali menjadi cahaya.
Dan bila esok matahari masih basah,
biarkan ia menangis tanpa pertanyaan.
Sebab setelah tangis selesai membasuh resah,
barangkali akan tumbuh keberanian
di tempat yang pernah disebut kehilangan.
Padang, 13 Juli 2026