Karya: Mutiarawati Kusuma Pratiwi
Di bawah langit yang kehilangan warna, senja menyerah pada malam. Di depan cermin yang jujur, aku menatap wajah yang belajar tersenyum meski pecah di dalam. Air mataku kuseka setenang embun.
Ada tangis yang terlalu lelah untuk terdengar.
Dulu, rumah dari doa jadi lorong tanpa lampu.
Janji runtuh jadi serpihan yang kupijak dengan hati telanjang.
Kata-katanya menjelma belati, merobek percaya, menyisakan rongga tempat angin malam keluar-masuk.
Aku berhenti berlari. Kubuka balutan takut.
Kubersihkan luka dengan kesabaran. Perih masih menggigit, tapi tak lagi kumusuhi.
Sembuh bukan menghapus bekas.
Sembuh adalah berani menyentuh tanpa menangis.
Dari reruntuhan, kubuat luka jadi jendela agar cahaya pulang.
Lalu terdengar: "Mommy... don't go anywhere... I need you... Love you, Mom."
Anak-anakku menjahit hatiku.
Mereka mengajarkanku bahwa luka boleh ada, tapi bukan penjara.
Kini aku berjalan.
Aku memaafkan diriku.
Aku bahagia.
Aku sembuh.
Dari malam paling gelap, lahirlah fajar.
Cirebon, 8 juli 2026