Karya: MUHAMMAD FAIZ
Terdengar suara tawa yang menggema di telinga,
tak pernah sepi walau tugas merajalela.
Suara gesekan kayu kursi
mengganggu kaki yang berjalan.
Di tengah keramaian ruangan yang gempita,
ada seseorang ikut tertawa lebar,
seolah tak ada yang disembunyikan.
Tetapi—ia hanya memasang topeng.
Semakin keras tawanya,
semakin dalam sesak yang terpendam.
Bukankah topeng hanya untuk pertunjukan?
Telah lama pertunjukan itu selesai,
mengapa ia masih memasangnya?
Mungkin ia telah lupa
menjadi dirinya sendiri tanpa topeng.
Entah berapa ribu orang
telah percaya pada wajah
yang bersembunyi di balik topeng.
Berapa lama lagi sampai semua tahu—
wajah itu bukan yang sesungguhnya,
hanya topeng yang dipaksa tersenyum.
Bojonegoro, 23 Agustus 2026