Karya: Khaira Zivana
Rintik hujan menyapu kaca jendela di kamar,
mengiringi sunyi yang kini kian meraba.
Ada sebentuk luka yang tak sempat dieja,
mengalir dengan tenang di sudut kelopak mata.
Tangis ini bukanlah sebuah tanda kekalahan,bukan pula pasrah yang membuat diri melemah.
Ia adalah untaian bahasa tanpa rupa suara,merawat sekeping jiwa dari segala rasa lara.
Setiap tetesnya perlahan menghapus debu kelam,
atas rasa kecewa yang sekian lama membeku.
Biar ia terus mengalir membasahi garis pipi,menyembuhkan kembali hati yang terlanjur sepi.
Sebab esok pasti ada senyum yang bersemi,setelah seluruh badai malam ini pergi.
Depok, 23 Agustus 2026