Karya: MUHAMAD RAHMAT AGUNG FAISAL
Tawa mengalir dari bibir,
seperti sungai yang lupa
bahwa di dasarnya ada batu-batu luka.
Ia tumbuh di antara keramaian,
menjadi bunga yang mekar
di tanah yang tak pernah benar-benar subur.
Kadang tawa hanyalah bahasa
yang dipilih hati ketika kata-kata
terlalu berat untuk dilahirkan.
Dan ketika malam menutup jendela,
gema tawa perlahan menjadi sunyi—
meninggalkan seseorang
yang kembali berbicara dengan dirinya sendiri.
Barangkali begitulah tawa:
bukan selalu pertanda bahagia,
melainkan cara paling halus
untuk menyembunyikan
apa yang belum mampu disembuhkan.
Bandung 23 agustus