Karya: Jahra Najmi Syaqib
Aku pernah berdiri menghadap sang surya,
Diciptakan untuk membawa kehendak-Nya.
Namun, mataku jatuh
Kepada sesuatu yang fana.
Dan anehnya, aku menginginkannya.
Lebih dari tugas yang dipercayakan.
Lebih dari langit yang memberiku tempat.
Lebih dari dia.
Seseorang tidak hancur karena kejahatan.
Tetapi, karena tidak mampu melepas rasa.
Semakin jauh ku melangkah,
Semakin ringan pula suara-Nya.
Aku mengalihkan pandanganku,
Bukan kepada-Nya tapi ke arah sang fana.
Seperti mahluk bodoh yang haus akan laut,
Aku meneguknya meski tahu
Pasti tidak akan cukup.
Sebuah benang melilit jemariku,
Mula-mula terasa hangat,
Lalu menjadi candu.
Aku mengira..
Aku sudah mendapatkan segalanya.
Namun, aku salah.
Keegoisanku membuatku lupa,
Lupa akan langit yang luas.
Pada akhirnya,
Sang pencipta memalingkan wajah-Nya.
Membuatku putus asa.
Sang fana menghilang.
Meninggalkan gema langkah,
Yang bahkan tak sempat kutahan.
Dan untuk pertama kalinya,
Sunyi terasa lebih berat,
Daripada rantai yang membelenggu.
Kini, aku tau apa arti ditinggalkan.
Aku tidak bisa terbang kembali.
Aku tidak bisa pulang.
Aku ingin kembali.
"Tuhan.. Maafkan lah mahlukmu ini"
Lirih sendu yang keluar setiap waktu.
Pendosa yang tak sempat meminta pengampunan.
Kini tak akan diaku.
Dan kini, aku paham.
Kehilangan bukanlah hukuman.
Namun, sebuah siksaan.
Saat tak ada lagi yang kau dapat,
Tak ada lagi yang bertahan,
Meninggalkanmu sendirian.
Namaku kini terlupakan,
Namun.. Izinkan aku berharap.
"Tuhan.. Tolong berikan hamba kesempatan kedua."
Tangisan yang tak akan pernah lagi di dengar.
Hanya sebuah keheningan.
Sebagai penanda.
Bahwa aku ditinggalkan.
Bandung, 6 Juni 2026