Gelotologi Kukabura Tertawa
Karya: Anik HailaqhariDi pucuk eukaliptus,
kukabura membuka fakultas gelotologi.
Tanpa toga, tanpa podium—
paruhnya mengaudit pagi.
Percobaan pertama:
jagalah rumah dengan suara.
Manusia meninggikan pagar,
menambah sandi dan kamera, lalu curiga.
Kukabura tertawa—
hutan menghafal
pagar gaungnya.
Percobaan kedua:
jangan sok kuat sendirian.
Satu paruh memantik,
keluarga menjahit pagi dengan suara;
lebih kompak daripada meja kami:
empat kursi, lima layar,
enam “sebentar” tak usai.
Percobaan ketiga:
jangan keliru menerjemahkan bahagia.
Gelaknya bukan kelakar,
melainkan pasak udara.
Lucunya, burung tak memoles bunyi;
manusia menyetrika senyum
untuk dipakai ke luar rumah.
Aku belajar:
tawa bukan dempul bagi retak,
melainkan gema
yang menggusur takut dari sarangnya.
Kesimpulan:
bila hidup melucu tanpa izin,
tertawalah bersama yang bangkit.
Humor terbaik tak membangun panggung dari yang jatuh—
ia menarik kursi
saat keangkuhan
hendak duduk.
Jambi, 26 Juni 2026