Tumbuh Dari Luka
Karya: Yohani Margareth Fiorenza Aksara SiregarTumbuh dari Luka
Namaku diselipkan di bawah piring seng yang penyok—
tiap subuh berbunyi seperti gigi yang lupa siapa yang digigitnya sendiri.
Aku dipanggil bukan untuk datang,
melainkan untuk habis:
“ambil”, “kerjakan”, “diam”—
dan sesuatu dalam diriku terlepas,
bukan pergi,
melainkan tertinggal di tempat yang tidak punya waktu.
Di lantai dingin berbau minyak basi dan kain lembap,
aku belajar: rumah bukan tempat pulang,
melainkan tempat tubuhku dipakai
oleh sesuatu yang bahkan tidak percaya aku ada.
Rindu membusuk di ember retak,
airnya terasa seperti kunci berkarat yang menelan mulut,
dan wajahku datang terlambat—
atau mungkin aku yang selalu tiba sebagai sisa.
Suatu malam, sendok jatuh.
Tok.
Sunyi tumbuh lebih keras dari bunyi.
Aku bersalah—
bukan karena hidup,
tapi karena belum selesai mati.
Dan kini—
aku tidak lagi menunggu.
Aku adalah rumah dari reruntuhan,
yang membuka jendela ke arah dalam,
dan menemukan sesuatu
yang sudah tinggal
sebelum aku lahir—
Bekasi, 25 Juli 2026