𝘉𝘪𝘤𝘰𝘭𝘰𝘳
Karya: Shelsa YulitaDengan tapak kecil yang berayun sunyi, anak kucing 𝘣𝘪𝘤𝘰𝘭𝘰𝘳 itu tiba di tengah kerumunan insan. Tubuhnya ringkih, melangkah seorang diri tanpa induk maupun saudara—entah karena dibuang atau terpisah oleh kecelakaan. Kedatangannya misterius, tak ada yang tahu dari mana ia berasal, pun ke mana ia akan pergi setelah ini.
Meski bertubuh mungil, ia memendam keberanian yang besar. Tungkainya yang rapuh nekat mengekor langkah seorang individu, menuntunnya sampai ke bawah atap tempat orang itu berteduh. Di sana ia menetap tanpa diundang, bertahan meski kerap dihalau. Ia tak mengerti rumitnya penolakan; yang ia tahu hanyalah satu tekad untuk bertahan hidup, sembari meyakini bahwa masih ada ketulusan dan pertolongan manusia yang tersisa.
Sementara itu, daun-daun berguguran dan berhamburan di atas bumi. Ada yang lepas dari ranting karena takdir siklusnya, ada pula yang terpaksa runtuh dihempas kencangnya angin.
Waktu terus bergulir dan orang-orang tetap tenggelam dalam kesibukan. Kala si mungil mulai letih karena terus diacuhkan, ia akhirnya memilih pergi. Dengan tungkai ringkih yang berayun pelan, makhluk kecil itu melanjutkan pengembaraannya, membawa sisa harapan untuk menemukan suaka yang sudi menyambutnya dengan ketulusan.
Si mungil tidak bersalah sama sekali atas ketidakpedulian dunia di sekitarnya. Dia kecil, dia polos, dan dia hanya berusaha bertahan hidup dengan kepercayaan yang jujur bahwa manusia memiliki kasih sayang. Jika suatu hari ia pergi, yang salah tentu bukan dirinya, sebab ia telah berjuang sekuat raga. Hanya saja, ia tak mampu bertahan jika benar-benar sebatang kara di dunia yang sedingin ini. Ketika orang-orang mendepaknya, ketika semua mata mengabaikannya, apakah itu salah si mungil? Melihat kondisinya, tentu saja tidak.
Manusia hidup dengan saling mengandalkan satu sama lain, maka bagaimana bisa kita menutup mata dan tidak memedulikan seutas kehidupan kecil yang sedang berjuang di depan kita?
“𝘈𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘥𝘦𝘣𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘱𝘢 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩, 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘸𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘨𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘱-𝘴𝘢𝘺𝘢𝘱 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘴𝘢.”
Seseorang kerap kali tumbuh dari perjalanan yang tidak mudah dan penuh luka. Namun, keindahan sejati manusia lahir ketika ia mampu melanjutkan langkah sembari memetik hikmah dari pengalaman pahit. Belajar dari luka berarti menerima dan memaafkannya, karena detik ini, kita telah berhasil melewatinya dan berjalan sejauh ini.
Dari sanalah kita memilih untuk memutus rantai keburukan agar tidak menimpa orang lain. Dengan berhenti menghakimi. Sebagaimana kita pernah mendekap kesulitan di masa lalu—ada saat kita mendambakan seulas kehangatan yang tak kunjung datang—maka hari ini, kita berikan perhatian itu kepada mereka yang sedang berjuang di hadapan kita.
Kita memiliki kendali penuh atas kemudi diri sendiri.
Kita memang tidak bisa memilih terlahir di rahim yang mana, atau trauma apa yang menggores masa lalu kita. Namun setelahnya, bentang jalan ke depan sepenuhnya ada di tangan kita, bukan ditentukan oleh orang-orang yang pernah menjatuhkan kita.
Kasih sayang adalah sumber kehidupan, dan tidak ada satu pun manusia yang lahir tanpa arti. Kita tidak bisa memilih cara kita lahir atau masa lalu apa yang membentuk kita, tetapi kita selalu bisa memilih: ingin menjadi manusia seperti apa kita hari ini.
Kampar kiri, 23 Juli 2026