Akar di Bawah Badai
Karya: Muhamad Rasya AlfareziAda musim
ketika langit lupa cara memeluk bumi.
Hujan tak lagi sekadar air,
melainkan kenangan
yang jatuh satu per satu
di atas ladang harapan.
Tak ada suara
saat luka mulai berakar.
Ia tumbuh diam-diam,
menjahit retak dengan kesabaran,
menegakkan jiwa
yang nyaris rebah oleh kehilangan.
Waktu tak pernah meminta luka pergi.
Ia hanya mengajarkan
bahwa badai bukan tempat untuk menyerah,
melainkan tempat
akar belajar menggenggam bumi.
Maka ketika bunga menghadap cahaya,
orang-orang hanya melihat indahnya mekar.
Tak seorang pun tahu,
di bawah kelopaknya,
pernah ada akar
yang berkali-kali berdamai dengan gelap.
Bogor, 23 juli 2026