Kompos
Karya: Riska KrisdayantiDi halaman belakang rumah,
aku mencangkul tanah
sedalam luka yang tak pernah selesai.
Setiap kali hidup
merontokkan harapan,
kupungut serpih-serpihnya
seperti daun yang gugur
lalu kukebumikan dalam satu liang tanah.
Kecewa.
Penyesalan.
Air mata yang tak sempat menjadi doa.
Kubiarkan semuanya membusuk.
Baunya memenuhi dada.
Bahkan aku sendiri
hampir tak sanggup
tinggal di dalamnya.
Namun tanah
tak pernah jijik
pada yang sedang terurai.
Ia sabar mengurai yang busuk,
hingga perlahan menjadi kesuburan.
Maka kutanam satu benih
di atasnya.
Musim berganti.
Akar belajar memeluk bumi.
Batang meninggi.
Bunga bermekaran.
Buah-buah ranum
mengundang banyak tangan.
Mereka sibuk memuji panen.
Tak seorang pun bertanya
apa yang pernah membusuk
di bawah akarnya.
Rupanya hidup memang seperti tanah.
Yang paling subur
bukan yang tak pernah terluka,
melainkan yang berani
menguraikan dukanya
menjadi kehidupan.
Perawang, 13 juli 2026