MENANAM AIR MATA
Karya: RISTA EKA LESTARIDi bagian dada yang paling sunyi,
Ada luka yang pernah berdarah tanpa bunyi.
Harapan mendadak runtuh,
Membuat diri sempat tak lagi utuh.
Aku pernah mengira malam tidak punya ujung,
Ketika kesedihan datang mengepung.
Rasanya seperti benih yang terhimpit di dalam tanah,
Gelap, sesak, dan hampir menyerah.
Namun, perlahan aku mengerti,
Kegelapan ini bukan tempat untuk mati.
Rasa sakit justru menjadi cara bumi memeluk diri,
Agar akar-akar ketabahanku mulai berdiri.
Retak di hati ini tidak membuatku patah,
Ia justru menunjukkan arah.
Dari hancurnya masa lalu yang sempat berderai,
Kini pucuk-pucuk kekuatan baru mulai menyemai.
Aku tidak lagi membenci perih yang kemarin,
Lewat air mata yang terlanjur jatuh ke kain,
Aku belajar cara bangkit dan utuh,
Menjadi pohon yang berdiri kokoh menghadapi angin.
Sidoarjo, 10 Juni 2026