Mekar di balik Luka
Karya: Rini NuraeniPada tanah yang retak kutitipkan lara,
disiram sunyi, dipeluk nestapa.
Tak ada musim yang sudi menyapa,
hanya sepi mengajari cara bernyawa.
Luka tak selalu berwajah duka,
kadang ia menjelma akar yang setia.
Menghunjam diam ke dasar jiwa,
menguatkan batang tanpa banyak kata.
Air mata jatuh bukan sekadar derita,
ia menjadi hujan yang menyuburkan asa.
Setiap pedih yang pernah kurasa,
menumbuhkan keberanian untuk percaya.
Aku tak memilih menjadi terluka,
namun kupilih bangkit tanpa membenci luka.
Sebab bunga tak bertanya mengapa badai datang,
ia hanya belajar mekar setelah diterjang.
Kini, bila dunia melihat senyumku merekah,
mereka tak selalu tahu jalan yang kutempuh payah.
Sebab di balik setiap kelopak yang indah,
tersimpan jejak luka yang tak pernah menyerah.
Maka biarlah luka menjadi halaman pertama,
bukan akhir dari kisah yang kupunya.
Karena dari retak yang pernah kurasa,
aku belajar: yang paling kuat adalah jiwa yang tetap mencinta.
Dan ketika fajar menyentuh wajah semesta,
aku tak lagi memusuhi luka.
Sebab di balik setiap perih yang pernah ada,
aku menemukan diriku… sedang mekar luar biasa.
Bandung, 12 juli 2026