Merekah di Batas Pekat
Karya: Lusna Nydia TazkirohHujan membasuh menemani duka yang lama,
langit menangis melukis elegi di jendela.
Derak pintu merobek senyap;
"Ibu, jiwaku masih menginap dalam pekat."
Dingin menjejak, sunyi menggema.
Kurawat hujan, kukecap luka,
menulis di atas bisu yang panjang;
elegi ini berdarah di ujung pena.
Hingga, di celah dinding yang retak,
hadir kehangatan meretas jarak.
Bukan dari ketukan pintu,
melainkan dari kelopak yang nekat di ambang itu.
Bunga? Berbicara pada penaku?
"Sudahi duka. Tatap dirimu.
Bukankah kau juga berhak merekah?
Aku pun tangguh, tumbuh setelah badai mereda,"
Katanya.
Dan aku pun melangkah dari batas pekat,
menjemput cahaya untuk merekah.
Meski gemetar. Meski baru belajar berjalan,
musim semi sudah menunggu di depan.
Semarang, 18 Juli 2026