Tempat Akar Belajar
Karya: Febriana Nur hidayahKonon, luka selalu dikenang karena darah yang ditinggalkannya.
Padahal, yang paling lama menetap adalah sunyi yang diam-diam belajar memanggil namaku dengan suara yang bukan lagi milikku.
Hari itu, langit melipat awannya, lalu menyelipkan sebongkah batu ke dalam dadaku.
Tak ada yang roboh.
Rumahku masih berdiri.
Hanya pintu-pintunya tak lagi mengenali ke mana harus pulang.
Sejak itu, setiap pagi datang lebih cepat daripada keberanianku membuka mata.
Harapan duduk di ambang jendela, namun tak pernah benar-benar masuk.
Aku tumbuh seperti akar yang setiap hari ditolak karang, namun tak pernah belajar membenci batu.
Ada malam ketika angin mengembalikan seluruh tangis yang telah kukubur.
Kukira, beberapa luka memang diciptakan agar manusia lupa cara bermekaran.
Lalu, di sela batu yang bahkan lumut enggan menyebutnya rumah,
kulihat akar-akar kecil tetap merajut gelap menjadi jalan.
Tak ada tepuk tangan.
Tak ada langit yang mengembalikan batu ke tempat asalnya.
Beberapa hal memang tak pernah berubah.
Karang tetap keras.
Langit tetap jauh.
Namun suatu pagi,
sekuntum bunga membuka kelopaknya tepat di atas luka yang dulu kukira tak akan pernah selesai.
Dan saat itulah aku mengerti,
barangkali yang tumbuh lebih dulu bukan bunga.
Melainkan keberanian yang selama ini diam-diam berakar di dalam luka.
Yogyakarta, 29 Juli 2026