Di mana Luka Berakhir, Di situlah Aku bermula
Karya: Dwi Ratna SariAda musim
yang tak pernah tercatat di kalender—
musim ketika seseorang
kehilangan suaranya sendiri.
Pada musim itu,
aku belajar bahwa patah
tidak selalu berbunyi.
Kadang ia hanya diam,
lalu perlahan mengubah cara seseorang
memandang langit.
Aku sempat membenci waktu,
karena ia berjalan
sementara harapanku tertinggal.
Namun waktu tak pernah benar-benar meninggalkanku;
ia hanya menunggu
hingga aku selesai berdamai.
Kini aku mengerti,
luka bukan pintu yang menutup perjalanan,
melainkan lorong sempit
yang memaksaku mengenal diriku
tanpa topeng,
tanpa tepuk tangan,
tanpa pujian.
Jika hari ini kau melihatku tersenyum,
jangan kira hidup tak pernah melukaiku.
Senyum ini tumbuh
dari tanah yang pernah longsor,
dari malam-malam
yang bahkan enggan mengingat namaku.
Aku tidak tumbuh
karena dunia berubah menjadi lembut.
Aku tumbuh
karena hatiku memilih
tidak mengeras.
Dan mungkin,
itulah keajaiban paling sunyi—
ketika seseorang
yang pernah hancur,
masih sanggup
menjadi tempat teduh
bagi harapan.
Semarang, 25 Juli 2026