Tumbuh Dari Luka
Karya: Nurul Mutia MashfufahMereka berkata waktu akan menyembuhkan,
tetapi tak ada yang melihat
bagaimana setiap malam aku mengumpulkan serpihan diriku
yang pecah oleh kata-kata dan kepergian.
Aku pernah percaya,
bahwa rumah adalah tempat pulang.
Nyatanya, aku belajar
bahkan pelukan pun bisa meninggalkan dingin
yang tak selesai semalam saja.
Luka ini tak bersuara,
namun bergema di setiap langkah.
Ia tinggal di sela napas,
mengajarkanku bahwa menangis
bukan selalu tanda lemah,
melainkan bukti
bahwa aku pernah mencintai dengan sungguh.
Sering kali aku ingin berhenti,
membiarkan harapan gugur
seperti daun yang lelah memeluk ranting.
Namun di dasar kehancuran,
ada sesuatu yang tetap bertahan:
sepotong keyakinan
bahwa hidup belum selesai menuliskan namaku.
Kini aku tumbuh,
bukan karena lukaku telah hilang,
melainkan karena aku belajar
membawa rasa sakit itu
tanpa membiarkannya menguasai arah langkahku.
Dan jika suatu hari
kau melihatku tersenyum,
jangan pernah mengira
aku tak pernah hancur.
Senyum itu hanyalah bunga
yang akhirnya berani mekar
di atas tanah
yang dulu dipenuhi luka.
Enrekang, 25 juli 2026