Bekas yang Menjadi Jejak
Karya: Arumy Wulan RamadhaniTak semua yang patah memilih binasa.
Sebagian menjelma menjadi akar,
menembus gelap yang tak pernah dipilih,
diam-diam memeluk bumi.
Aku pernah menjadi musim
yang kehilangan segala warna.
Kutanam hari di tanah yang tandus,
kusirami dengan air mata
yang tak pernah sempat kupahami maknanya.
Langit menambatkan mendung
di setiap langkah yang kutempuh,
sedang harapan tinggal sebutir cahaya
yang nyaris padam diterpa ragu.
Namun luka tak selalu lahir
untuk mengabadikan nestapa.
Ia mengajariku,
bahwa yang paling kuat
bukan mereka yang tak pernah terluka,
melainkan mereka yang tetap bertahan,
menumbuhkan kehidupan
di atas reruntuhan dirinya.
Maka kini,
setiap bekas adalah jejak,
setiap air mata adalah hujan,
dan setiap jatuh adalah tanah
tempat keberanian disemai.
Aku tak lagi meminta jalan tanpa duri.
Cukuplah diberi hati
yang mampu menumbuhkan bunga,
bahkan dari luka
yang dahulu mengira
hidupku akan selesai lebih dulu.
Sumedang, 10 Juli 2026