Satu Obat Rinduku
Karya: Ririn SelviyaniHari terus berjalan
Malam melangkah pelan
Dan waktu berputar seperti biasa
Malam di luar begitu ramai
Rintik hujan membuat suasana bergemuruh
Namun di kamar ini, hanya kesunyian yg kurasakan
Menatap air bening mengalir di kaca jendela
Hujan adalah teman dari kerinduan
Semakin deras turun, rindu semakin meluap memeluk jiwa
Menatap hujan, seperti menatap Malaikatku
Malaikat yang selalu melindungiku,
Merawat tiap jejak langkahku
Dan menyalurkan kehangatan lewat dekapannya
Kini, sosok Malaikatku tak lagi terlihat
Hanya kenangan manis yang tersisa
Aroma khasnya menjadi pengganti wujudnya
Dan doa menjadi satu-satunya obat rinduku
Jarak bukan lagi penyekat,
Waktu bukan pula pembatas
Tapi, Bu, dunia kita telah berbeda
Ibu sudah tenang di Surga
Ibu sudah bahagia dan sehat
Tugasku kini mendoakan Ibu dari bumi
Senyumku bukan berarti bahagia tanpa Ibu
Melainkan pantulan bahwa Ibu tersenyum di Surga
Padangsidimpuan, 3 Oktober 2026