Monolog lupa
Karya: Primaverra Alisya TrioktaPada akhirnya,
melupakan adalah mencintai dengan cara yang lebih sunyi.
Tidak ada lagi tangis yang harus disembunyikan,
tidak ada lagi tunggu yang harus dirayakan.
Aku tidak menghapusmu, verra.
Aku hanya memindahkanmu
dari nadi yang berdegup kencang,
ke sudut perpustakaan yang jarang kukunjungi.
Menjadi buku yang pernah selesai kubaca,
tapi tak pernah selesai kumaknai.
Dulu, namamu adalah doa.
Kini, namamu adalah jeda
di antara dua kalimat yang tidak lagi berhubungan.
Aku belajar untuk tidak menoleh,
ketika angin membawa aroma yang mirip denganmu.
Belajar untuk tidak singgah,
di jalan yang dulu kita hafal bersama.
Karena melupakan bukan tentang membenci,
ia tentang merelakan dengan rapi.
Mengubur rindu tanpa nisan,
agar ia tidak tumbuh liar
di halaman hari-hari baruku.
Dan jika suatu saat kau bertanya,
apakah aku telah benar-benar lupa?
Aku akan tersenyum.
Sebab beberapa hal
memang harus tetap tinggal,
agar kita bisa benar-benar pergi.
Pekan baru, 2 Oktober 2026