Aksara yang Perlahan Memudar
Karya: FEBRIANA WULAN RAHMA WATINamamu mengurung paksa ragaku,
bayangmu yang terus bersemayam lena dijiwaku.
Tawaku menggema dipenjuru ruang tak berwaktu,
saat netraku tertuju paksa pada bingkai foto bertuan itu.
Dahulu engkaulah muara dari segala asa,
mengetat rapat disudut sanubari yang bertahta.
Kini kau membalik kata dari segalanya yang kala,
kini kutuangkan murka pada memoriku yang terus mengingat ragamu.
Kusingkirkan segala renjana yang melilit paksa raga jiwaku,
engkau bukanlah ralat, melainkan kemustahilan yang tak bertuan.
Kugurui hatiku untuk melupakan,
meski terpincang gundah kuusahakan.
Doa kulangitkan pada diriku,
namamu kini hanyalah kata tanpa rasa dan makna dalam sanubariku.
Aku melangkah menyambut fajar yang benderang,
menghidupkan kembali jiwa yang sempat padam.
Pangkal Pinang, 2 Oktober 2026