Tangisan
Karya: Zahwa Fitri Yani*Munajat dalam menggapai rahmat-Nya*
Aku berdiri bersama bukit usia yang kian menua, disela-selanya, terlukir doa-doa yang membersamai kasih,
Lalu tenggelam dalam rahmat semesta yang menghulu riang, beriringan dengan rasa suka dan duka.
Namun, mengapa kita sibuk mengejar damai, bersuka cita dalam bahagia yang kita yakin itu abadi?
Sementara kita lupa—
Lupa berterima kasih pada semesta yang tercipta dari tetesan rahmat Tuhan.
Semesta yang telah lama dipijaki,
oleh manusia dengan segala cara untuk bertahan, mengolah, meramu, mengubah, lalu mendirikan aturan untuk berkehidupan.
Apakah dengan hanya menduduki bumi yang kian renta ini, kita kehilangan hakikat rasa syukur?
Syukur untuk merawat dan menjaga setiap jengkal tanah yang kita pijaki.
Bagaimana jika kelak anak cucu kita tidak lagi mampu menyaksikan indahnya bumi yang kini kita pijak?
Bagaimana jika warisan yang kita tinggalkan hanyalah deretan proyeksi gedung megah dan pencakar langit, tanpa sisa ruang bagi ekosistem alam untuk bernapas?
Kita terjebak dalam modernisasi yang hanya memuja industri dan perdagangan; sebuah sistem yang sering kali hanya menghitung untung dan rugi, namun lupa menghitung harga nyawa yang terkorbankan dibaliknya.
Kita begitu sibuk memupuk ego pembangunan, hingga perlahan kehilangan arah.
Dalam hiruk-pikuk duniawi, kita pun lupa akan arti syukur yang sesungguhnya.
Kita lupa bahwa syukur tidak cukup hanya dengan lisan yang melafal,
Karena syukur menuntun jejak kaki
di dunia yang nyata, menuntut perbuatan sebagai bukti nyata cinta kita kepada Sang Pemberi Hidup.
Maka, sudah saatnya manusia berbenah. lalu jadikanlah setiap langkah kaki
diatas bumi ini sebagai munajat,
Dan biarkan seluruh jiwa menyatu dalam sujud yang khusyuk.
Lalu kita kembalikan kepada Ilahi Robbi, Sang Maha Pemilik Hidup
Sebagai upaya menyadarkan rasa kasih sayang kita
Bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada semesta yang telah Ia titipkan untuk kita jaga.
Tegal,3 September 2026