Bahasa Air Mata
Karya: Zahra NurainiMalam menyelimuti langit
dengan hitam yang tak bernama.
Di bawahnya,
aku menitipkan tangis
pada sunyi yang paling setia.
Hujan pun turun
seolah langit sedang belajar
mengucapkan luka
tanpa sepatah kata.
Dulu kukira tangis adalah kalah.
Kini kutahu,
ia hanya hujan
yang tak sanggup lagi
ditahan langit.
Maka biarlah aku runtuh
bersama rintiknya.
Sebab setiap hujan
selalu menemukan bumi
untuk menjadi rumah.
Dan mungkin,
setelah malam selesai,
aku pun akan mengerti
ada luka yang harus basah
sebelum mampu
menumbuhkan kehidupan.
Lebak, 12 September 2026