Jalan Sunyi Menuju Pulih
Karya: Wulan JuliantiDi balik pintu kayu yang mengatup rapat,
isak pelan itu merambat di dinginnya malam.
Dada sesak menahan gulungan beban yang berat,
seolah semesta enggan memberi setitik salam.
Setetes demi setetes jatuh tanpa jeda,
menelusuri pipi yang lelah berbaur sepi.
Tak ada kata yang sanggup mengeja luka,
hanya bening air mata yang jujur menepi.
Bukan karena lemah jiwa ini menyerah,
melainkan cangkir sabar yang mulai melimpah.
Biarlah duka basah membasuh dada,
mengalirkan pedih yang lama bertakhta.
Sebab dalam setiap usapan jemari yang letih,
ada janji tenang setelah linang yang perih.
Tangis ini adalah jalan sunyi menuju pulih.
Bekasi, 6 September 2026