MELIPAT LARA
Karya: ALIA PUTRI UTAMIDi sudut kamar yang kian kelabu,
malam melarutkan rintik di pelupuk mata.
Ada sunyi yang mengetuk pintu batin,
membawa jari-jemari ini kembali meraba luka.
Satu per satu perih itu kukumpulkan,
seperti helaian kertas usang yang berserakan.
Kupilah rindu yang kian memar dan jengah,
juga harap-harap patah yang tak sempat berbuah.
Perlahan, kubelajar melipat lara ini.
Kusimpan rapi dalam laci dada yang paling sunyi,
agar tangis tak lagi terdengar menjerit,meminta pelukan
agar duka menjelma ketabahan yang mengitari langit.
Aku lahir sebagai anak pertama yang harus berjalan Tanpa arah bagaikan belajar dalam gelap
Tidak ada jejak yang di ikuti, tidak ada peta dan aku di paksa untuk mencari jalan ku sendiri.
Biar saja sepi merayakan dirinya sendiri di sini.
Sebab kutahu, esok pagi,
luka yang terlipat rapi harus pandai bersembunyi
di balik senyum yang pura-pura abadi.
Medan, 6 September 2026